KCC- Pacarku Ngantukkan
December 11, 2008
mau coba posting cerpen gw yg kalah ikutan lomba kemaren… mudah2an di blog gw bisa menghibur temen2 yg baca
sekarang Cerita Ini di ikutkan dalam Kontes Cerita Cinta (KCC), tolong pilih gw ya…
caranya ada di akhir cerita
Pacarku Ngantukan
Oleh: Eka Purwaningsih
Pagi ini kuawali dengan pekerjaan yang sangat rutin orang-orang lakukan, bangun tidur langsung ambil air wudhu untuk solat shubuh, dilanjutkan dengan tidur lagi. Dan kira-kira jam tujuh aku bangun lagi, dan bergegas mundar-mandir mencari sarapan. Kalau orang bilang aku ini jorok. Gimana nggak aku belum mandi udah sarapan. Hmmm… terserahlah mereka mau bilang apa, yang jelas aku fun dengan semuanya, dan alhamdulillah, aku nggak sakit karena itu. Selesai sarapan aku bergegas meraih handuk merahku yang dijemur di samping rumah. Aku mandi dan tak lupa gosok gigi.
Oh iya, namaku Cherry, saat ini aku kuliah di Universitas Rancamaya Jurusan Sistem Informasi. Aku aktif di salah satu organisasi kampus yang bernama Laboratorium Universitas Rancamaya. Di sana aku bisa mendapatkan berbagai macam ilmu komputer, yang kebetulan ada hubungannya dengan perkuliahanku.
Sesampainya aku di kampus, aku langsung ke Laboratorium Komputer. Di sana udah berkumpul teman-temanku. Salah satunya ada Fajar. Kalau aku nyebut nama itu, aku bisa tersenyum. Karena banyak hal yang nggak terduga aku lakuin sama dia. Yah… dia itu seorang Asisten Laboratorium terdingin yang pernah kutemui. Sedingin es yang ada di kutub. Nggak juga sih.. hehehe… dari namanya aku membayangkan kalau ia pasti dilahirkan di pagi hari dan ia sangat rajin bangun pagi. Yup seperti yang kalian tebak dia memang pacarku. Dan Fajar saat ini kulihat sedang sibuk mengutak-atik komputer yang ada dihadapannya. Entah apa yang ia kerjakan. Tapi biarlah. Aku juga lagi ngambek sama dia.
Di salah satu sudut ruangan ada teman dekatku, Dinda namanya. Ia seorang teman yang sangat baik, selalu memperhatikan aku, dan dia nggak pernah bosen mendengarkan keluh kesahku. Aku menghampirinya dan mengajaknya untuk bergegas keruangan lain.
Aku : “Din…”
Dinda : “Ya.. ada apa Cher?”
Aku : “Gw semalem gak bisa tidur nih…”
Dinda : “Lho kenapa? Berantem lagi sama Fajar?”
Aku : “Kalo menurut gw sih iya, tapi tau deh tuh menurut Fajar… ”
Dinda : “Kenapa lagi sih?”
Akupun menceritakan apa yang telah terjadi semalam dengan Fajar. Sebenarnya ini bukan masalah yang besar sebenarnya. Tapi aku juga heran, kenapa aku nggak bisa nerima ini semua. Aku udah jalan sama Fajar selama enam bulan. Bukan waktu yang singkat kan? Yah… aku paling kesal sama sifatnya yang satu ini. Dia gampang sekali tertidur pulas. Sekalipun dia sedang berbicara lewat telepon denganku. Aku heran kenapa bisa yah… pernah suatu kali aku sedang membicarakan tentang tugas kuliah, ditengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba aku sadar kalau aku hanya bicara sendirian. Aku coba memanggilnya tapi dia tetap saja nggak jawab. Sampai aku kesal dan aku telepon rumahnya, dan kebetulan adiknya yang mengangkatnya. Dan apa yang terjadi? Sang adik berkata “Mas Fajarnya lagi tidur mbak”.
Kyaaaa… aku kesal bukan kepalang, percuma saja dari tadi aku nyerocos ini itu sama Fajar, kalau ternyata dia tertidur pulas. Pernah sekali waktu aku benar-benar marah dengannya. Dan hasilnya, dia tertidur dengan polosnya. Dan keesokan paginya, aku masih kesal menahan marah. Dan dia nggak sadar kalau aku marah. Sering sekali ini terjadi, aku nggak abis fakir gimana caranya untuk membuatnya tidak separah itu, dan hari ini terjadi lagi. Aku kehabisan kata-kata. Semalam dia tertidur saat aku bilang aku kangen sama dia. Dan tadi pagi waktu aku lihat dia, dengan cueknya dia tersenyum manis tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Aku sadar, pekerjaannya sebagai assisten Laboratorium, menuntutnya untuk selalu mengembangkan diri, nggak jarang kalau dia harus pulang larut malam untuk belajar, dan sesampainya dirumah, kadang dia nggak ganti baju, dengan suksesnya ia langsung mendarat di tempat tidurnya dan pluk… tertidur pulas hingga pagi…
Dinda : “Trus, lo mau gimana Cher? Apa lo mau gini terus? Lo musti nerima keadaan kalau dia itu memang begitu”
Aku : “Iya sih… ada cara nggak supaya sekali-sekali dia sadar atas kebiasaan buruknya?”
Dinda : “Ada…”
Aku : “Apa?”
Dinda menjelaskan rencananya padaku, sepertinya idenya bagus juga, karena aku memang belum pernah mencoba idenya ini, walau aku sebenarnya juga nggak yakin ini berhasil, tapi kenapa nggak dicoba dulu nanti malam. Akhirnya aku dan Dinda harus segera pergi ke kelas untuk kuliah. Kulihat Fajar masih menekan tombol-tombol keyboard dihadapannya. Aku menghampirinya.
Aku : “Jar.. aku kelas dulu yah?”
Fajar : “oh iyah… Cher… maafin aku semalem yah… aku ketiduran”
Apa?? Dia sadar kalau dia ketiduran? Wah ini sejarah baru dalam hubungan kami. Belum pernah ia mengucapkan maaf karena ketiduran. Sambil tersenyum bahagia, aku menjawab.
Aku : “Aku tau kamu ketiduran… tapi apa kamu tau kalo aku ngambek?”
Fajar : “Aku tau kok… makanya aku udah siapin sesuatu yang spesial untuk kamu, malam ini.”
Aku : “Apaan tuh? Tumben kamu bilang gini ke aku?”
Fajar : “Pokoknya ada deh… udah kamu sekarang kuliah, dan belajar yang bener, aku lagi nyelesaiin kerjaanku, nanti kalau udah selesai aku akan datangin kamu, dan jangan pernah datangi aku kalau aku belum ngedatangin kamu. OK?”
Aku : “Aduuh… kok gitu sih? Jadi nanti siang kita nggak makan siang bareng?”
Fajar : “Nggak dulu yah.. pokoknya nanti malem aku akan buat kamu senang.”
Aku : “Malemnya jam berapa?”
Fajar : “Rahasia. Udah sana”
Dengan rasa penasaran tingkat tinggi aku pergi ninggalin Fajar yang terlihat begitu senang melihat wajah penasaranku. Padahal baru malam ini aku ingin melancarkan rencana yang sudah Dinda beritahu. Sebenarnya rencana Dinda, aku nggak yakin berhasil. Dinda bilang aku harus melakukan hal yang sama dengan yang Fajar lakukan, pura-pura terdidur dan besoknya, tanpa rasa bersalah tetap bersikap biasa-biasa saja.
Tapi kali ini lain, Fajar ingin memberiku sesuatu untuk menebus kesalahannya. Aku makin penasaran aja. Dan semuanya aku ceritakan pada Dinda, dan Dinda bilang, mungkin aja Fajar sadar akan kekhilafannya selama ini padaku. Dan semoga saja itu benar.
Akupun mengikuti perkuliahan, berdua dengan Dinda aku lalui siang itu dengan perasaan yang sangat penasaran. Selesai satu mata kuliah yang biasanya aku bergegas mengirim sms ke Fajar untuk makan, kali ini nggak, aku yang menerima sms dari Fajar.
“Sayang… hari ini libur dulu yah makan siang sama aku, kamu sama Dinda dulu yah…. Aku lagi siapin sesuatu untuk kamu.”
Akhirnya kuajak Dinda makan di warung bakso langgananku. Rasanya beda banget nggak makan siang sama Fajar. Dan sorepun tiba, dan sampai saat ini Fajar belum mendekatiku. Aku lelah menunggu dia. Akhirnya kuputuskan untuk membuka internet, membuka emailku yang sudah lama nggak kubuka. Ternyata banyak sekali email yang masuk. Tapi rata-rata dari orang-orang yang nggak kukenal, yang mengirimi aku iklan-iklan, atau bahkan hadiah yang nilainya ratusan dolar. Kadang aku nggak habis fikir. Darimana mereka mendapatkan alamat emailku itu.
Fajar : ”Cherry”
Aku : “Eh.. iyah..”
Fajar : “Udah selesai belum browsingnya?”
Aku : “Udah kok…”
Fajar : “Ya udah kita pergi sekarang yah… semua sudah siap”
Aku : “OK”
Tanpa banyak pertanyaan aku beranjak mengikutinya, karena memang aku sangat penasaran dengan semua ini, kira-kira apa yang ia ingin berikan padaku. Tanpa fikir panjang lagi aku langsung keluar dari email yang kubuka tadi dan bergegas mengambil tas putihku untuk mengikutinya. Entah mau dibawa kemana aku saat ini, aku naik motor bersamanya, dingin rasanya. Karena hari ini bukan waktunya dia mengantarku pulang, jadi aku nggak bawa jaket. Ditengah perjalanan dia berhenti, sambil setengah kaget.
Fajar : “Kamu ngerasa dingin Cher?”
Aku : “Mmm.. i…iyah…”
Fajar : “ya udah… pake jaket aku yah….”
Aku : “tapi gimana kamu?”
Fajar : “gak papa kok… aku kan udah biasa… udah pake aja…”
Tanpa banyak Tanya lagi aku langsung menyambar jaket hitamnya. Aku memang sangat kedinginan. Karena memang sore tadi sempat hujan. Akhirnya kami sampai disuatu tempat yang sepertinya aku kenal. Sebuah taman yang dulu pernah menyatukanku dengannya. Aku tersenyum senang, karena ternyata dia masih ingat dimana kita jadian. Disana masih ada bangku taman putih yang menjadi saksi bisu kami saat itu.
Dia mengajakku duduk, dan mulai menyalakan sebuah lilin yang ada ditangannya.
Fajar : “Kamu tau apa arti lilin ini bagi kita?”
Aku : “Nggak”
Aku bingung, kenapa tiba-tiba dia jadi ngomongin lilin.
Fajar : “Hmmm…. Lilin ini akan selalu menerangi kita selama dia sanggup menerangi kita. Dan kita akan membutuhkan lilin ini untuk menerangi kita disaat gelap, kamu tau apa artinya?”
Aku : “nggak”
Fajar : “Lillin itu aku… untuk kamu…”
Aku : “Maksudnya?”
Fajar : “Iyah… aku akan berusaha menerangi kamu, selama aku sanggup, dan ketika aku tertidur, itu artinya aku sedang tidak sanggup menerangimu, dan lihat lilin itu, nggak pernah konfirmasi kan kalau dia mau habis? Kamu nggak akan tau kan kapan dia mati, kalau kamu nggak ngeliatin dia?”
Aku : “Iya”
Fajar : “Nah itulah aku, jadi aku mohon sama kamu… tolong mengerti aku.. aku nggak akan pernah sengaja tertidur….”
Aku : “Aku paham… tapi kamu kan mustinya bisa ngukur diri kamu… sebelum kamu tertidur pasti kamu udah ngerasa ngantuk, dan kamu kan bisa bilang sama aku kalau kamu ngantuk. Ya kan?”
Fajar : “Iya.. bener… makanya malam ini, aku akan berusaha memperbaiki itu semua, aku nggak mau Cherryku ngambek terus gara-gara aku ketiduran.”
Aku : “Hmmm… setuju… jadi ini yang kamu bilang mau kasih sesuatu sama aku?”
Fajar : “nggak masih ada kok”
Aku : “apa?”
Fajar : “ada syaratnya…. Kamu musti certain tentang kekesalan kamu ke aku waktu aku ketiduran. OK. Dan kamu nggak boleh nengok ke aku.”
Aku : “OK”
Dan akupun bercerita tentang kekesalanku dengannya, jujur aja aku nggak benci sama kebiasaannya, aku hanya kesal, dan hanya sebatas kesal dengannya… aku bercerita panjang lebar, dan aku mendengar suara kresek-kresek dari belakang. Selesai aku bercerita, aku diam, dan menunggu reaksinya… tapi kok lama banget yah? Setelah beberapa saat aku coba untuk menengok ke belakang. Dan ternyata apa yang kulihat? Dia terdidur pulas di atas kursi putih, dia bersandarkan bahu kursi dan ditangan kanannya aku lihat dia menggenggam sesuatu. Yah… dia menggenggam sepasang boneka Hello Kitty, yang kusuka. Tapi Arggghhhh… kenapa dia tertidur lagi????……










Klo angga sie bikin cerpen bukan buat lomba,,,
Bikin ya bikin aja klo lagi m’mut buat database
Jadi inget waktu SMA
Comment by aNGga Labyrinth™ — December 14, 2008 @ 1:11 am
sie..sie… kisah nyata nih. co cwiiiit
Comment by Onesjawa — December 17, 2008 @ 9:37 am
wah cherry kayak zie banget hbs sholat subuh minum - masak - trs maem - br mandi , jorok sih kt orang tp hbsnya enak gt hbs mandi kan bs lgsg kerja jd ga perlu gosok gigi 2 kali, trs Fajar jg kayak zie…dulu wkt kuliah zie tukang ngantuk krn sering begadang krn pulang demo mlm2 terus
Comment by ziezie — December 17, 2008 @ 5:30 pm
Nice story
, moga2 banyak yang vote ya, 1 vote dari aku arie cerita cinta…
Comment by arie — December 17, 2008 @ 9:15 pm
wedew, ceritanya, bagus euy, padaha kekny bete bangeeeet klo punya pacar ngantukaaa, maleeees….. yawdah aku pilih kamuuuu, untuk KCC-nya
Comment by babeh — December 18, 2008 @ 12:47 pm
kayaknya gw kenal tuh tokoh cowonya
Comment by away — December 23, 2008 @ 9:57 am
kalo buat pengalaman pribadi it’s ok Ka….
kalo buat cerita endingnya sih gampang di tebak… he,he,he,….khas Indonesia (kearifan lokal)yaah di bikin penasaran dikit lah kaya holiwud…maaf ya komennya rada ngacoo…
Comment by Mas Roes — December 26, 2008 @ 3:05 pm
hahaha smma pcr aku
Comment by 4uthor — November 3, 2009 @ 3:14 pm