Balada Ibu Tua
September 12, 2008
Ibu tua terduduk di pinggir jalan menatap hiruk
pikuk yang ada. Ia terdiam tatkala melihat kesibukan
para manusia pekerja, ia termenung seharian menatap
jalan itu. terus dan terus ia menatap jalan itu.
dalam hatinya menahan rasa perih yang sangat dalam
karena dirinya harus menerima keadaan bahwa dia
hanyalah seorang pengemis jalanan, yang hanya bisa
makan bila ada orang yang mau berbaik hati
memberikan sedikit uang receh untuknya, ia ingin
sekali bekerja menjadi apa saja asal mendapatkan
uang yang halal, namun apa daya saat ini umurnya
sudah tidak muda lagi dan ia tidak kuat bekerja, dan
tidak ada lagi orang yang mau memperkerjakannya.
akhirnya ia hanya bisa terduduk di jalan, terkadang
miris hatinya melihat pengemis lain yang umurnya
jauh lebih muda dari dirinya yang tidak berusaha
mencari pekerjaan lain. Tapi ia lebih miris lagi
ketika melihat seorang bocah yang dengan susah payah
mencari nafkah dengan berjualan batu. Seorang bocah
yang seharusnya diam dirumah untuk mengerjakan PRnya
atau pergi kesekolah.
nenek itu meneteskan airmatanya tatkala melihat ada
seorang boss yang duduk manis dibelakang supirnya,
dan ketika sampai ditujuan, boss itu dengan
tenangnya menunggu sang supir untuk membukakan pintu
mobilnya. ibu itu berfikir, apakah boss itu tidak
punya cukup tenaga untuk sekedar membuka pintu
sendiri? apakah membuka pintu mobil adalah suatu
pekerjaan yang sulit? Tapi mungkin itulah nasib
orang kecil. sudah susah payah bekerja, tetap saja
akan diperlakukan kurang baik.
Mungkin karena alasan pendidikanlah yang membuat
setiap orang berbeda, tapi ibu itu berfikir, walau
pekerjaan berbeda, bukankan lebih baik jika sang
boss mengerjakan hal yang ringan dengan tangannya
sendiri? Ah… apalah arti pendapatku… fikir ibu
itu.
Dari arah kejauhan ibu itu melihat seorang sales
yang berlari mengejar clientnya. ia memohon pada
client itu untuk membeli barang yang ia tawarkan.
sungguh banyak peluh yang ia kucurkan. ibu itupun
sejenak bertanya. bukankan sales itu juga
berpendidikan? tapi mengapa begitu berbeda dengan
boss yang tadi?
Ibu itu terus dan terus bertanya dalam hatinya. ia
hanya bisa berdoa, suatu saat nanti sang anak kecil,
sales dan supir itu mendapat kebahagiaan yang nyata.









walaupun susah masih mendoakan orang lain!
Comment by trendy — September 12, 2008 @ 9:00 pm
Yah…semoga kalau kelak kita jadi boss tidak termasuk yang demikian!
Comment by seno — September 13, 2008 @ 12:12 pm
amiiiinnn….
Comment by miTadRiani — September 14, 2008 @ 12:44 am
mba ato ibu tua ya ini, aku cuma numpang lewat aja nie. skalian godain dikit ya. nama ku pLuTo …
Comment by pLuTo — September 15, 2008 @ 2:02 am
So touched. sekedar mampir setelah baca your invite as friend at plurk.
Comment by bayu — September 16, 2008 @ 2:28 pm
amiin, insya allah kita bisa membantu dengan cara yang lebih baik (jangan sampe ada korban spt kasus bagi zakat yg jd headline tv itu)
Comment by atrix — September 17, 2008 @ 8:05 am
wuih,,,sungguh bijak tuh nenek2..
jarang ada pengemis yang bisa berpikiran seperti itu(mungkin dulunya ia pernah sekolah kali ya??)..
tapi kalo dharto liat yah, di Jogja tuh masih banyak nenek2 yang masih sanggup bekerja, biasanya mereka kerja di pasar2 tradisional. Entah jadi pedagang, tukang bersih2 bahkan sampai kuli panggul yang kadang2 bobot yang harus dipanggulnya bisa sampai 3 atau 4 kali lipat berat tubuhnya..
salut deh sama “mbok-mbok” itu.. pantang untuk mengemis..
Comment by dHarto..!! — September 20, 2008 @ 2:45 pm
puisi yang indah, Saya amat tertarik dengan watak ibu tua ini.
Peranan ibu ini membawa kesan yang menyusuk didalam hati dan sanubari.
Comment by pelaut97 — September 23, 2008 @ 3:52 pm
Selamat idul fitri bagi yg merayakan idul fitri. Selamat berlibur bagi yg berlibur. Mohon maaf lahir dan batin.
Comment by laporan — September 25, 2008 @ 10:57 am
huuu sebuah cerita kehidupan yang seharusnya kita telaah.. dan amalin.. seep bu postingannya keren..
Comment by Andri — October 5, 2008 @ 12:23 pm