Peluh kian membasahi keningnya ketika ia hendak melangkahkan kakinya untuk kesekian kalinya mengarungi kerasnya hidup. Hatinya hancur tatkala mendengar kenyataan bahwa keadaan perekonomian semakin sulit, BBM kian hari kian mahal, membuatnya semakin sulit untuk memberikan gizi yang baik untuk anak-anaknya yang hanya berjumlah 2 orang, Tina dan Koko namanya. Kerap kali mereka merengek minta dibelikan nasi bungkus dengan lauk ayam bakar. Mungkin untuk sebagian orang makan dengan ayam bakar merupakan hal yang mudah, tapi tidak bagi bapak pedagang kaki lima ini, sebut saja namanya Pak Parto. Kurus badannya yang seakan hanya berisi tulang yang sangat kering, yang haus akan rasa nyaman, dilapisi dengan kulit yang coklat kehitaman karena setiap hari ia harus berkejaran dengan petugas keamanan yang membersihkan jalanan dari pedagang kaki lima seperti Pak Parto ini. Setiap hari ia berjalan dengan menggunakan sepasang sandal jepit berwarna kuning, yang sudah tidak terlihat kuning lagi, karena di sana-sini banyak sekali lubang yang menghiasi sandal itu, ia mengenakan topi hitam yang di kanan kirinya banyak dihiasi debu.
Hidupnya kian hari kian berat ia rasakan, tapi Pak Parto tidak pernah menyerah dengan semua ini. Setiap hari ia mengumpulkan daun cincau yang ia tanam sendiri di kebun tetangga, karena memang ia tidak memiliki tanah sendiri, selama ini ia tinggal disebuah rumah yang sangat kecil, boleh dikatakan ini bukanlah rumah, tapi sebuah gudang penyimpanan, yang letaknya ditengah perkuburan. Tak ada pintu, tak ada jendela. Bangunan ini entah sudah berapa lama ditinggalkan pemiliknya karena ada kabar penggusuran, entah sampai kapan Pak Parto dapat bertahan hidup disana.
Pagi hari sekitar jam 3 dini hari Pak Parto sudah bangun untuk mengolah daun cincau yang sebelumnya sudah ia sisihkan dari batangnya, sekitar setengah jam ia meremas-remas sambil menyaring daun cincau tersebut hingga hilang getahnya, dan setelah air saringan terkumpul, ia mendiamkan wadah yang telah berisi air saringan daun cincau itu selama kira-kira satu jam. Sambil menunggu air saringan itu menggumpal. Ia mulai untuk shalat tahajud. Setelah shalat ia membuat kuah untuk cincaunya.
Setelah semua selesai dibuat ia mulai menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk berjualan. Azan shubuh terdengar dan Pak Parto bergegas ke mushala yang letaknya berdekatan dengan perkuburan itu dan ia shalat di sana. Selesai shalat ia kembali menyiapkan dagangannya. Ia menengok kebelakang, Tina dan Koko masih tertidur pulas. Sebelum berangkat ia menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, sebungkus mie instant yang ia peroleh dari seseorang yang tidak ia kenal kemarin. Ia meletakkannya disamping Tina.
Pak Parto mulai berjalan menyusuri kampung pagi itu, pagi itu ia harus pergi ke tukang es balok yang jaraknya 10 kilometer dari rumahnya. Ia berjalan kaki dengan memikul dagangannya. Sesampainya di sana. Ia langsung membeli es balok tersebut. Dan ia kembali berjalan untuk membeli kantung plastik untuk membungkus esnya nanti.
Setelah semua perbekalan berdagang ia rasa cukup. Ia beristirahat sebentar untuk shalat dhuha, satu hal yang sangat mengaggumkan dari Pak Parto ia tidak pernah ketinggalan untuk shalat lima waktu dan juga shalat sunah. Ia tak lupa selalu berdoa agar hidupnya selalu dilindungi oleh Allah. Dalam doanya ia hanya ingin kelak anak-anaknya bisa menjadi orang yang pintar.
Memang beban hidup pak Parto sangatlah berat, beruntung pemerintah sudah mengadakan program sekolah gratis, dan kebetulan sekolah dimana Tina dan Koko bersekolah, ikut serta dalam program tersebut, sehingga Tina dan Koko dapat bersekolah, walau terkadang untuk membeli buku tulis tak jarang Pak Parto harus berhutang ke sana kemari.
Ia terus berjalan hingga waktu menunjukkan pukul 11, ia menjajakan dagangannya disamping sekolahan, berharap ada seseorang lewat untuk membeli es cincaunya. Peluh bercucuran dan perut yang kosong menemani Pak Parto untuk menjalani harinya. Dari kejauhan ia mendengar seorang anak menangis karena terpisah dari ibunya. Entah kemana ibu anak itu. Seketika Pak Parto menghampiri anak itu dan menuntunnya kepinggir jalan dan mencoba untuk menanyakan keberadaan ibunya. Tak disangka sang ibu datang dan menghardik Pak Parto dengan sebutan Penculik anak, alhasil orang-orang yang berada di sekiar mereka datang dan memukuli Pak Parto yang memang tidak tau apa-apa.
Sore itu Pak Parto menghabiskan waktunya di tahanan polsek. Entah bagaimana nasib dagangannya sepeninggalnya tadi. Ia hanya bisa berdoa kalau besok ia bisa dibebeaskan dan kembali mencai pinjaman untuk membeli bahan-bahan keperluan berdagang. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar pembicaraan dua orang lelaki, sepertinya mereka adalah seseorang yang menangani kasus Pak Parto, salah satunya bernama Amir. Ia menghampiri Pak Parto dengan hati-hati, Pak Amir mengenakan setelan jas hitam, yang rapi sekali. Jauh berbeda dengan keadaan Pak Parto yang seluruh tubuhnya dipenuhi bekas-bekas pukulan yang mengeluarkan darah.
Pak Amir mengajak berbicara Pak Parto menyanyakan mengapa ia sampai ada di tahanan ini. Tanpa fikir panjang Pak Parto segera menceritakan semua kejadian yang ia alami. Sambil tersenyum Pak Amir merangkul Pak Parto dan mengajaknya untuk keluar dari tahanan itu. Entah apa yang dilakukan pak Amir tadi dengan polisi-polisi itu sehingga Pak Parto dengan mudahnya bisa keluar.
Di luar penjara nampak Tina dan Koko tersenyum senang, dan apa yang dilihat Pak Parto sangatlah mengejutkan ia melihat Tina dan Koko mengenakan baju baru, yang memang selama ini tidak pernah terffikirkan Pak Parto untuk membelikannya. Hatinya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Pak Amir pun tidak menjelaskan apa-apa pada Pak Parto ia hanya mengajak Pak Parto untuk naik kemobilnya dan diikuti oleh Tina dan Koko.
Mobil itu terus melaju dan berhenti disebuah kios kecil bertuliskan. “Kedai Cincau Pak Parto” di sana sudah banyak orang menunggu untuk membeli cincau Pak Parto, seketika itu Pak Parto bertanya pada Pak Amir, apa arti semua ini. Sambil tersenyum pak Amir menjawab. “Bapak tidak perlu tau apa artinya, yang jelas ini adalah jawaban atas doa-doa bapak selama ini” Tanpa fikir panjang lagi Pak Parto sujud syukur dan memeluk Pak Amir.
bagus gak cerpennya??? itu kependekann gak???