Climate Security - Perumahan
July 16, 2008
Masih ngelanjutin topik tentang Iklim kita yang nggak nentu akhir-akhir ini.
Setiap hari aku bekerja di daerah Ciputat, lebih deket ke Bintaro lah tepatnya di Rempoa. Nah setiap hari aku ikut “nebeng” temanku, waktu pertama kali nebeng aku suka banget sama suasana perjalanan menuju rumahnya, masih alami, masih banyak kebon-kebon singkong, dan masih ada suasana desanya. itu kira-kira setahun yang lalu. Kalau lewat situ rasanya sejuk banget, jadi serasa lagi pulang kampung.

Tapi…apa yang terjadi… sekarang kebun singkong itu udah berubah jadi perumahan yang dibangun oleh developer. namanya apa aku lupa, yang jelas sekarang kebun singkong itu telah hilang dan berganti perumahan yang sedang setengah jadi.

agak miris ngeliatnya… karena udara sejuk yang biasa masuk ke dalam angkot yang kutumpangi untuk menuju rumah temanku, sudah mulai berkurang…
ternyata perbedaan suhunya sangat kontras. Gimana nggak, jalanan yang terhitung sangat jarang kendaraan akses, kemungkinan besar nantinya kalau perumahan itu sudah jadi pasti akan semakin banyak kendaraan yang lewat. Selain itu kebun singkong yang biasanya menghasilkan Oksigen, sekarang sudah hilang dan berganti dengan kebun batu bata merah yang tidak menghasilkan apa2 kecuali kenyamanan untuk pemiliknya. Memang sih.. Kebutuhan akan tempat tinggal saat ini meningkat. Mengingat pertumbuhan manusia yang makin hari makin banyak pastinya kebutuhan tempat tinggal akan meningkat juga.
Mau bagaimana lagi, kita juga nggak bisa menyalahkan pihak developer yang membangun perumahan itu. toh itu adalah salah satu cara mereka untuk bertahan hidup di dunia ini (itu mata pencaharian mereka).
tapi mungkin aku bisa kasih beberapa saran untuk para developer yang mungkin sudi mampir di blogku ini….
- Memperhitungkan keadaan lingkungan sekitarnya sebelum membangun, hitung tingkat kebutuhan akan udara bersih, seberapa banyak pohon yang ada disana, paling nggak nantinya mereka juga mustinya bisa menanam pohon sejumlah yang mereka hilangkan, walaupun ini sulit pasti ada cara untuk menyisakan lahan untuk itu.
- Sediakan tempat pembuangan sampah yang memadai. Ajak para warga untuk menyadari pentingnya menjaga kebersihan dengan menyediakan dua buah bak sampah untuk pemisahan sampah.
- Mengusahakan untuk menghubungi dinas kebersihan setempat untuk mengambil sampah secara periodik, dan untuk sampah kering yang sudah dipisahkan bias dikelola oleh warga untuk membuat barang-barang lain.
- Membuat selokan yang memadai agar nantinya tidak terjadi banjir.
nggak gampang emang membuat suatu infrastruktur yang baik, tapi kalau kita mau berusaha untuk membuatnya dan “mau” untuk melakukannya, pasti kita semua bisa membuatnya.
Iklim yang tidak menentu seperti ini pasti juga akibat berbagai macam ketidak adilan kita pada lingkungan kita ini. Lama-lama tuhan bisa marah kalo liat ini terus-terusan terjadi.
Miris banget yah….
NB. Ikutan blogging comppetition periode 3 yuk… klik link ini http://bcnow60.org/blogging-competition








Mudah - mudahan para developer mau mendengarkan amin …..
kalo nggak semakin berkurang tempat sejuk yang ada di jakarta ..
Comment by deni — July 16, 2008 @ 10:29 am
Semestinya dan idealnya Developer sudah mendesign perumahan itu ada fasos hijaunya……agar tercipta lingkungan yg asri.
btw, makassih doanya ya…….tapi sy udah 4 taon lho menikah….hehe
Comment by Alex — July 16, 2008 @ 2:53 pm
Makanya jangan tinggal bejubel semua mau di jakarta, sumatra masih luas, apa lagi papua, seger tuh kayanya udara disana.
Comment by ubadbmarko — July 16, 2008 @ 2:55 pm
nggak gampang emang membuat suatu infrastruktur yang baik, tapi kalau kita mau berusaha untuk membuatnya dan “mau” untuk melakukannya, pasti kita semua bisa membuatnya
Selain itu ingin menambahkan, kalau kita melakukannya dengan benar maka infrastruktur itu bisa jadi fondasi bagi perkembangan di masa depan. Jadi membangunnya dengan presepsi bukan cuma sisi bisnis maupun lingkungan tapi juga memikirkan apakah infrastruktur itu akan menyongong bila, misalnya, sebuah kita itu tumbuh semakin besar layaknya bayi. Kalau ngak begitu kita cuma mendapati solusi hari ini masalah besoook hari
Comment by uwiuw — July 16, 2008 @ 3:09 pm
iya, yang penting kan pembangunan yang ramah lingkungan ya
Comment by Ragil — July 16, 2008 @ 3:19 pm
iya sih, semakin lama jumlah penduduk semakin banyak, lahan buat pemukiman juga semakin sempit, hmmm akhirnya zona hijau juga diemplang juga
Comment by wier — July 16, 2008 @ 4:22 pm
@deni: Amiin…
@alex: owh… kirain baru married…
@ubad: maunya gitu… tapi udah keenakan tinggal di Jakarta
@uwium: CAIYO!!!
@raqil, wier: yups.. bener…
Comment by ekaqren — July 16, 2008 @ 4:36 pm
Cakep….
Comment by Imam Madzab Bocor Alus™ — July 16, 2008 @ 5:26 pm
baiknya si develpoer membangun bagunan di depannya ada kebun singkong!
kan bagus tu kalo nggak ada lauk bisa makan singkong!
hehehe
Comment by trendy — July 16, 2008 @ 6:05 pm
Iya
saatnya kita tersadar
Comment by achoey — July 16, 2008 @ 6:08 pm
Salam. Mohon komentarnya di http://achoey.wordpress.com/2008/07/16/tiga-besar-parpol-2009-survey-csis/. Terima kasih
Comment by achoey — July 16, 2008 @ 6:08 pm
Ikut sesak…..
Sarannya Dik Eka perlu dipertimbangkan oleh para developer.
Brilliant Dik…
Comment by 'Nin — July 16, 2008 @ 7:13 pm
salam kenal dari bandung
ternyata anda pencinta lingkungan
http://esaifoto.wordpress.com
Comment by esaifoto — July 16, 2008 @ 7:54 pm
harus ada keseimbangan yah mbak
Comment by masmoemet — July 16, 2008 @ 8:18 pm
Kalau nggak salah, Tuhan itu sudah marah dari kemarin-kemarin. Dasar kitanya aja yang kelewat bebal yang nggak mau tahu dengan lingkungan sekitar. Postingan yang mantap.
Comment by Rafki RS — July 16, 2008 @ 10:04 pm
aaah mudah-mudahan dibaca sama developernya Mbak…
Comment by Chic — July 16, 2008 @ 10:32 pm
@trendy: ya.. gak musti gitu kan? hehehe…
@achoey: yukk…
@Nin’&Rafki: trims yah…:)
@esaifoto: salam kenal juga…
@masmoemet&Chic: yup.. bener banget…
Comment by ekaqren — July 17, 2008 @ 8:06 am
boleh konsultasi ga ?
japri gitu
Comment by Affan — July 17, 2008 @ 8:48 am
Salam…..makasih mbak ud comment di blog aku
menanggapi masalah iklim:
kayaknya menurut aku yang paling sreg adalah membuat selokan dan daerah resapan air.
soalnya kebetulan aku juga tinggal di ciputat, di ciputat baru tepatnya
hampir setiap hari kalo aku lewat suatu jalan di luar komplek banyak bgt genangan air
orang2 disitu sering bgt nyiramin jalan sampe2 jd genangan kayak danau kecil buatan , alhasil batu2 yg jd tambalan jalan jd rapuh n cepet rusak
blom lg daerah resapan air yg kurang trus kurangnya hijau2-an jd tambah gersang
smoga aja bannyak developer yg liat blog ini
trus jd sadar untuk membuat daerah pemukiman yg lebih bagus lg dan tentunya enviromental friendly, tul????
Comment by Rizkeyboard — July 17, 2008 @ 2:02 pm
Yup setuju banget… siip…dan hal sangat berasa kalo kita di kota.. sangat mengganggu keseimbangan, walaupun pada kenyataannya di desa juga sudah mengalami pergeseran iklim…
kesadaran harus dimulai dari diri sendiri…
btw maksih dah mampir di blogku mbak…
Comment by azaxs — July 17, 2008 @ 4:02 pm
@affan: sementara japri ditutup.. huehehehe….
@rizky: tul… betul… setuju…
@azaxs: yup… sama2 ya….
Comment by ekaqren — July 17, 2008 @ 4:20 pm
pengen ikutan neh…jadinya…:)
Comment by mozamal — July 17, 2008 @ 4:22 pm
sepertinya susah terwujud yak ? tapi gpp deh namanya juga usaha, semoga setiap orang berpikiran seperti yang pada comment disini.
Comment by penganggguran — July 17, 2008 @ 4:53 pm
setuju banget tuh sarannya !!!!
Comment by sinyopooh — July 17, 2008 @ 5:02 pm
mbak…
gambarnya pohon ketela ya??
Comment by yakhanu — July 17, 2008 @ 5:08 pm
Wahai developer…masih adakah yang punya nurani…
Comment by Moda — July 17, 2008 @ 5:51 pm
Gimana ya…. sebenernya d komplek angga udah banyak pohonnya tapi teteup aja dapet banjir kiriman,
mana d pinggir kali deket ciledug indah pengen d bikin perumahan lagi, jadi aja tuh tambah banjir
Comment by aNGga Labyrinth™ — July 17, 2008 @ 7:04 pm
Di Bandung juga banyak tempat terbuka yang beralih fungsi…
Comment by Daniel Mahendra — July 17, 2008 @ 7:12 pm
mudah-mudahan pembangunan menggunakan peta yang benar
Comment by senimanpeta — July 17, 2008 @ 9:30 pm
studi amdal buat developer mesti diawasi ketat, daerah “rtb” (ruang terbuka hijau) gak viable untuk proyek2 “beton” .. hehe
Comment by atrix — July 17, 2008 @ 9:43 pm
Yoha … saya suka gambar singkon, dari kecil suka daunnya sampai singkongnya, dan samai sekarang masih nanam singkong.
Comment by Ersis Warmansyah Abbas — July 18, 2008 @ 12:09 am
Bagaimana jika mbak eka pindah ke rumah saya, nti saya ajak ke belakang rumah yang banyak pohon singkong.
Comment by laporan — July 18, 2008 @ 5:41 am
Alhamdulillah jalan menuju rumahku masih banyak hijau2 nya
Comment by Mas Koko — July 18, 2008 @ 7:20 am
rumah gue dah kek jualan pohon buanyaaak banget pepohonan eh jualan pohon apa kek hutan ya??? hihihihi
Comment by dahlia — July 18, 2008 @ 8:06 am
@mozamal: ikut apa?
@pengangguran: mudah2an deh..
@mas koko, dahlia, ersis, laporan, sinyopoh, moda&artix:
@iyakhanu: iya bener…
@angga: duh… bisa tambah parah aja tuh banjirnya…
@Daniel:
Comment by ekaqren — July 18, 2008 @ 9:50 am
mungkin mereka masih anak singkong mbak hehehe
Comment by L 34 H — July 18, 2008 @ 10:58 am
kasihan kalau pohonnya di tebang semua… apa kata anak cucu kita nanti kalau melihat kenyataan yang seperti ini?
Comment by ick — July 18, 2008 @ 1:47 pm
makanya ke bandung aja…
Comment by cantigi — July 18, 2008 @ 2:23 pm
dharto belum bikin entry tentang topik ini neehhh….
btw, mana hape barunya lagi… ???
Comment by dHarto..!! — July 18, 2008 @ 3:46 pm
@mereka pasti akan menangis..karena nggak ada lagi kehijauan…
@cantiqi: iyah… bandung suejukk
@dharto: bikin duong tho… HP??HP apah?
Comment by ekaqren — July 18, 2008 @ 3:56 pm
betulll banget.. klo aku liat dari kantor sini trus ngeliat ke arah sudirman.. udara di sekitar sudirman berkabut tapi bukan kabut yg kya di puncak tapi kabut asap..
gak kebayang 20 tahun lg kya apa..
Comment by haries — July 18, 2008 @ 4:06 pm
go go go go green! udara sehat kalo banyak taneman…
Comment by ayaelectro — July 18, 2008 @ 4:12 pm
wawawah… gak nyangka di iler bisa bikin artikel kayak gini. wuiihhhh~~~~
btw it’s bener banget, kadang developer sekarang kurang banget perhatiin AMDAL ( Analisis Dampak Linkungan ), jadi kalo mereka buat proyek tinggal tancep tancep ajah.
kurang perhatiin dampak linkungan akhirnya jakarta jadi tambah panas weleh weleh ….
dan si iler bener banget … harusnya setiap developer perhatiin poin-poiin solusi di blog ini :
Memperhitungkan keadaan lingkungan sekitarnya sebelum membangun, hitung tingkat kebutuhan akan udara bersih, seberapa banyak pohon yang ada disana… bla bla bla
khan kalo mereka lebih perhatiin lingkungan, Jakarta bisa jadi lebih ademmm… btw … ilerr… it’s greatttt
Comment by Ano — July 18, 2008 @ 5:20 pm
wagh..kebun singkong ku kw apain ka ??
:(
Comment by okta sihotang — July 18, 2008 @ 8:38 pm
Salam kenal, thanks udah kasi komen ke blog-ku
Inilah Indonesia negeri-ku, lahan yang hijau diubah jadi lahan beton, lahan yang tandus dibiarkan tetap tandus, hutan rimba jadi entah kemana rimba-nya…….
Comment by D2 — July 19, 2008 @ 9:06 am
emm….Bandung heurin ku tangtung (sudah sangat padat). Bukit-bukit dibabat untuk villa dan rumah-rumah mewah. Sepertinya para pengembang dan pemberi ijin kurang peduli akan keselamatan lingkungan.
Comment by gajahkurus — July 19, 2008 @ 9:25 am
Mungkin sebaiknya developer itu main Sims City dlu kali ya.. hhe. Btw, saya tinggal di Jakarta tapi deket ma taman kota, yg banyak pohonnya, jadi udaranya lumayan berkualiatas lah. Hhe.. narsis.
Comment by tamie — July 19, 2008 @ 10:17 am
Deket rumah saya ada lahan kebun kangkung yang sangat luas dan bisa diandalkan buat jadi daerah resapan di kala hujan. Sekarang (udah 2 minggu ini) si brengsek Gading Orchard anak perusahaan Summarecon menuai tentakel2 bisnisnya dengan menguruk tanah tersebut. Entah mau dibuat apaan.
Comment by utchanovsky — July 19, 2008 @ 12:35 pm
mbak tetanggaan lho, aku depannya UIN mbak eka dimana.
Comment by fitri — July 19, 2008 @ 6:47 pm
itu daun singkongnya seger bgt yak??
slurpppp…
Comment by blue — July 19, 2008 @ 10:13 pm
daerah di jkt banyak banget yang dinamai berdasarkan nama pohon/tanaman, tapi kenyataannya kini tinggal kenangan cuma dihiasi pohon beton. daerah resapan air udah semakin menyempit krn pembangunan kota yg asal, ini juga sepertinya yg bikin bencana bajir setiap tahunnya makin parah. halah tapi itu teorinya saya saja, buktinya sampai sekarang saya gak berbuat apa2 utk membuat alam dan lingkungan lebih baik
Comment by nita — July 20, 2008 @ 10:59 pm
he..he…
sama tuh di daerahku
daerahku masih masuk kodya Jogja tapi berbatasan langsung dengan Kab. Bantul (maklum kota Jogja cuma segede upil) Nah waktu kecil dulu masih banyak sawah, kalo suntuk tinggal jalan-jalan aja ke sana sambil menikmati aliran parit kecil yang seger, tapi sekarang perumahan di mana², fiuhh….panas deh jadinya
Salam kenal ya
ps: Selamat ya dah dapet Jam tangan
Comment by Joko — July 21, 2008 @ 9:31 am
@haries: 20 tahun lagi?? jangan2 10 tahun aja udah habis tanah hijau…
@gajahkurus,ayaelectro: yup bener…
@Ano: bang anoooo… pliss jangan bawa2 iler…
@okta: maksudnya??
@tamie: tapi sims city kan virtual
@utcha: wah2…musti waspada tuh…
@fitri: aku di rempoa
@nita: mungkin lama2 ada nama jalan Beton kali yaa…
@joko: trims yah… anak ACS yah?
Comment by ekaqren — July 21, 2008 @ 1:28 pm
Sebagai gambaran awal, pas masih ada rawa2 aja banjir udah nyentuk lutut. Gimana entar kalo udah jadi bangunannya.
Denger2 summarecon (masih ngomongin dia) biang kerok terjadinya banjir di seputar jakarta (terutama wilayah kelapa gading). Huh!
Comment by utchanovsky — July 21, 2008 @ 11:42 pm
di belakang rumah ridu masih ada kebon singkong lho..
Comment by ridu — July 22, 2008 @ 6:57 am
Photonya keren, bikin ngiler
Comment by Wempi — July 22, 2008 @ 8:37 am
bansa Maya adalah bangsa yang pada awal-awal berkembang. Kotanya besar dan teratur, penduduknya banyak, konon untuk menghidupi mereka, para petani telah menerapkan intensifikasi, apa ndak hebat tuh. Katanya salah satu kemungkinan mereka lenyap karena tanah mereka tidak bisa lagi ditingkatkan hasilnya, bahkan menurun karena unsur haranya habis..apa ndak bahaya tuh…. nulis dong tentang ini…..
Comment by f heris — July 26, 2008 @ 12:42 pm
@utchanovsky: iya.. bisa2 jadi kolam semua nih…
@ridu: wah asyik dong du… kapan2 bakar singkong rame2 kyknya seru tuh…
@wempi: ????
@fherisL wah nnulis tentang bangsa maya? hmmm….
Comment by ekaqren — July 28, 2008 @ 1:26 pm
Iya, bener… Tadinya ane dah ngerasa tinggal di kampung halaman
soalnya gak punya kampung lagi, jadi berkurang deh perasaan itu. Mudah2an masih banyak orang2 yang tetap melestarikan kebun mereka untuk menjaga kesejukan sekitar…Comment by Annie — August 20, 2008 @ 12:16 pm